Potensi Wisata Sejarah di Nanga Taman, Makam Temenggung Panglima Ayup di Desa Lubuk Tajau, Tertua di Bumi Cidayu

1628
SITUS SEJARAH - Satu di antara situs sejarah di Kabupaten Sekadau, Makam Temenggung Panglima Ayub, yang berangka 1617, membuktikan kebersamaan suku dan ras di Bumi Lawang Kuari. Karena Kerajaan Sekaadau, yang notabene beragama Islam, memiliki panglima perang dari Suku Dayak.

CERITA heroik Temenggung Panglima Ayup, tetap hidup dan tertanam pada Masyarakat Dayak Mentuka, terutama yang berada di Desa Lubuk Tajau dan Desa Pantok. Keberaniannya sebagai panglima perang pada masanya, sekitar tahun 1500-an akhir, patut dibanggakan.

Menurut Agustinus, Tokoh Masyarakat Dayak Mentuka, cerita heroik Temenggung Panglima Ayup yang berperang, terjadi di daerah Sepauk.

Atas perintah Raja Sekadau, Temenggung Panglima Ayup memimpin pasukan melawan Kerajaan Sintang. Peperangan ini terjadi karena ada kesalahpahaman antara Kerajaan Sintang dan Kerajaan Sekadau saat itu.

“Temenggung Panglima Ayup memimpin pasukan atas perintah dari Raja Sekadau, untuk berperang melawan Kerajaan Sintang di Sepauk, pada akhir tahun 1500-an Masehi,” ujar Agustinus, saat ditemuai lawangkuari.com di kediamannya, Senin (27/2/2017).

Mantan Kades Pantok ini menambahkan, bahwa sebagai bukti atas kemenangan dalam peperangan tersebut, Temenggung Panglima Ayup membawa tujuh kepala prajurit pasukan Kerajaan Sintang. Hal ini lebih dikenal pada Suku Dayak Mentuka dengan sebutan Tujuh Kepala Samaruang (kepala yang berasal dari wilayah Samaruang Sepauk).

Atas jasanya tersebut, Raja Sekadau menobatkan Temenggung Panglima Ayup sebagai Panglima Dayak di Kerajaan Sekadau.

“Tujuh kepala tersebut berhasil dibawa oleh Tumenggung Panglima Ayup, sebagai tanda kemenangan. Sehingga ia dinobatkan oleh Raja Sekadau sebagai Panglima Dayak. Sekarang, tujuh kepala itu sudah menjadi tenggkorak, dan masih tersimpan di sebelah makamnya,” ujar ayah empat anak ini.

Abang M Firman, pemerhati kearifan lokal Sekadau mengatakan, makam yang ada di Desa Lubuk Tajau, tercatat pada 1617 Masehi merupakan makam tertua di Bumi Cidayu. Makam Temenggung Panglima Ayup ini menjadi situs bersejarah bagi Kerajaan Sekadau.

“Dari cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Dayak Mentuka, bahwa apa yang dilakukan oleh Panglima adalah atas perintah Raja Sekadau. Hal ini menunjukkan eksistensi Kerajaan Sekadau pada waktu itu. Namun, harus diteliti lebih lanjut siapa yang menjadi Raja Sekadau pada periode 1500-an akhir,” kata Abang Firman.

Adapun makam raja-raja Sekadau yang ada di Kematu, Kecamatan Sekadau Hulu, berkisar di antara 1700-1800-an masehi. Sementara, makam Temenggung Panglima Ayub yang ada di sebelah gedung SMPN 5 Nanga Taman, lebih tua, yaitu tahun 1617.

Abang Firman mengatakan, berkaitan dengan peristiwa peperangan yang dipimpinn Tumenggung Panglima Ayup di Sepauk, dikarenakan perebutan wilayah Sepauk itu sendiri. Wilayah yang disengketakan selama beratus-ratus tahun lalu antara dua kerajaan yang bertetangga, yaitu Kerajaan Sekadau dan Kerajaan Sintang.

Pertikaian itu kemudian bisa diakhiri pada masa Sultan Anum Muhammad Kamaruddin, yang  menjadi Raja Sekadau. Penyelesaian pertikaian itu tidak lagi dengan peperangan namun dengan pendekatan humanis dan kultural.

“Masyarakat Sepauk diminta untuk mendengarkan dentuman meriam dari Kerajaan Sekadau maupun Kerajaan Sintang yang dibunyikan bergantian. Dentuman itu nanti yang akan menentukan wilayah dua kerajaan itu,” paparnya.

Walaupun secara geografis, letak Sepauk lebih dekat dengan Kerajaan Sekadau, namun dentuman meriam Kerajaan Sintang dapat terdengar dengan jelas oleh masyarakat Sepauk pada waktu itu. Oleh karena itu, sesuai perjanjian, maka wilayah Sepauk menjadi milik Kerajaan Sintang.

“Kerajaan Sekadau tercatat memang memiliki beberapa orang panglima dari Suku Dayak. Yang pertama adalah Temenggung Panglima Ayup, tahun 1500-an akhir. Kedua adalah Patih Kabut, pada masa Sultan Anum Muhammad Kamaruddin.,” pungkas peneliti Raja Siak Bulutn ini. (abg)

LEAVE A REPLY