Pesona Air Terjun Cuci Kain Menggugah Adrenalin Traveler dan Punya Cerita Emosional

1121
CUCI KAIN - Indahnya pemandangan AIR Terjun Cuci Kain, di Desa Tembaga, Kecamatan Nanga Mahap. Tidak hanya memiliki pesona yang luar biasa, namun cerita yang ada dibalik keindahan tersebut, juga sangat menggugah emosi.

AIR Terjun Cuci Kain, di Desa Tembaga, Kecamatan Nanga Mahap, tidak hanya memiliki pesona yang luar biasa, namun cerita yang ada dibalik keindahan tersebut, juga sangat menggugah emosi.

Berjarak sekitar 20 meter dari pusat kota Nanga Mahap, ke destinasi wisata ini, dapat ditempuh melalui jalur darat, menggunakan kendaran roda dua maupun roda empat. Air terjun ini punyai dua tingkatan.

Masing-masing tingkatan memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter. Air yang terjun laksana tirai putih yang membentang didinding batu.

Pepohonan sekitar yang rimbun membuat suasana menjadi sejuk dan menyegarkan. Lokasi yang jauh dari keramaian kota, membuatnya sanggat cocok dikunjungi untuk mengusir rasa lelah dan penat setelah sibuk beraktifitas.

Air Terjun Cuci Kain yang memesona ini masih perawan, laksana batu permata yang belum terasah. Belum banyak pengunjung yang mengetahui lokasi tersebut, bahkan masyarakat setempatpun jarang mengunjunginya.

Padahal, jika dikelola disertai upaya promosi yang maksimal maka, wisata alam dikabupaten sekadau ini bakal ramai dikunjungi wisatawan.

Perjalanan menuju lokasi wisata Air Terjun Cuci Kain Nanga Mahap sedikit menantang, dari Nanga Mahap menuju desa tembaga memakan waktu sekitar 45 menit, perjalanan menggunakan kendaraan roda empat.

Dalam perjalanan kita akan melewati empat desa yakni, Desa Nanga Mahap, Desa Batu Pahat, Desa Teluk Kebau, dan Desa Landau Apin.

Ketika lawangkuari.com menyambangi kediaman Kepala Desa Tembaga, Apin memaparkan, kekayaan alam yang berada di daerah adminitrasinya, dengan secangkir kopi lalu ia berkicau serta diiringi dengan keadaan serius dan bersenda gurau.

Dari Desa Tembaga, ia menjelaskan di dalam perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua menuju Dusun Kepayang yang merupakan dusun paling ujung di Desa Tembaga. Kalau musim hujan jalanya licin, karena belum dilapisi rabat beton, masih jalan tanah. Jalur seperti ini sangat cocok ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua, terutama motorcross.

“Dari Dusun Kepayang memakan waktu sekitar 15 menit menuju Air Terjun Cuci Kain. Hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Jalanan terjal dan melintasi hutan membuat kendaraan hanya bisa sampai kaki tanjakan,” ujarnya.

Yang menariknya, ketika datang ke lokasi langsung disambut pemandangan alam yang sangat menakjubkan membuat kita tercengang kagum. “Panorama alam yang luar biasa, suara dan aliran deras dari Air Terjun Cuci Kain membuat rasa lelah sirna sekejap mata,” ucapnya.

Cerita Gadis Pencuci Kain

Air terjun ini punya cerita, kata Apin, pada dahulu kala, ada sesosok gadis yang sedang mencuci kain di air terjun tersebut. Pada saat yang sama, ada tujuh pemuda daerah setempat yang hendak berburu dan menjumpai gadis yang sedang mencuci tersebut.

Karena penasaran, para pemuda tersebut menegur sang gadis, mulai dari pemuda pertama sampai ke enam. Akan tetapi gadis yang sedang mencuci kain itu tidak menanggapai dan menoleh kepada para pemuda tersebut.

Hingga pada pemuda yang ketujuh yang menegur dirinya, gadis itupun menoleh pemuda yang terakhir. Akan tetapi setelah itu, pemuda tersebut dengan sekejap hilang bersama gadis tersebut yang disaksikan oleh keenam pemuda lainnya.

“Hingga saat ini pemuda tersebut tidak kembali, dan oleh warga setempat dinamailah air terjun dengan nama Cuci Kain,” ceritanya.“Inilah kisah air terjun Cuci kain yang tersimpan dalam benak warga setempat,” pungkas Apin. (rmo)

LEAVE A REPLY