Sarakal Barzanji, jadi Nomor Lomba Favorit pada Festival Seni Budaya Melayu VII dan Maulid Tradisional 2017

492
Kelompok Maulud Nanga Taman, yang beranggotakan para remaja putri berusia 14 tahun, yang terdiri dari Maniar, Jamilah, Nadia, Dayang, Anggel, Husna, Lia, dan Tia. Mereka meaih juara empat, pada FSBM dan Maulud Tradisional 2017 se-Kabupaten Sekadau di Kecamatan Nanga Taman.

NANGA TAMAN, LK – Festival Seni Budaya Melayu FSBM (FSBM) VII dan Maulid Tradisional 2017 Kabupaten Sekadau, yang dipusatkan di Kecamatan Nanga, memperlomba beberapa cabang. Satu di antaranya adalah Sarakal Al Barzanji.

Sarakal Al Barzanji atau Barzanji adalah membaca kitab karya Syeikh Ja’far Al-Barzanji, seorang sastrawan kelahiran Madinah pada 1690 M. Kitab aslinya bernama Iqh Al-Jawahir, yang berarti “Kalung Permata.

Kitab ini disusun untuk meningkatkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW. Sehingga kitab ini berisikan tentang kehidupan Rasulullah, sejak hingga diangkat menjadi Rasul.

Pembacaan Sarakal Al Barzanji itu sendiri merupakan alkuturasi kebudayaan Melayu yang bersinggungan dengan Islam. Dan dibacakan pada saat peringatan Maulud Nabi, juga pada di hari Raya Islam lainnya.

BACA JUGA: Rangkaian Festival Seni Budaya Melayu VII dan Maulid Tradisional 2017 se-Kabupaten Sekadau di Bumi CIDAYU

Pada FSBM dan Maulud Tradisional 2017 di Nanga Taman, pembacaan Sarakal Al Barzanji dilalukukan oleh remaja-remaja putri berusia 14 tahun, yang tergabung dalam kelompok Maulud Nanga Taman. Pembacaan oleh para remaja putri ini menjadi sebuah fenomena yang luar biasa bagi perkembangan Budaya Melayu di Kabupaten Sekadau.

Kelompok Maulud Nanga Taman ini beranggotakan Maniar, Jamilah, Nadia, Dayang, Anggel, Husna, Lia, dan Tia.

Menurut Maniar, kecintaannya terhadap Budaya Melayu telah tampak saat ia duduk dibangku SD. Kini ia tidak canggung untuk menampilkan kemampuannya dihadapan khalayak ramai. Walaupun tahun ini hanya mendapat peringkat ke 4, namun ia mengatakan ini adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa.

“Walaupun hanya peringkat ke 4, tapi ini merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi saya dan teman-teman bisa ikut melestarikan budaya Melayu khususnya Al Barzanji,” kata siswa kelas 7 SMP 1 Nanga Taman ini.

Sementara itu Ramlan Pas yang merupakan pelatih kelompok Maulud dari Nanga Taman ini mengatakan bahwa juara tidak menjadi acuan bagi tim yang ia asuh. Apalagi anak asuhnya sudah sering meraih penghargaan di tingkat kabupaten. Namun, kecintaan remaja terhadap budaya asli mereka adalah sesuatu yang sangat luar biasa di tengah banyaknya budaya asing yang ada dilingkungannya.

“Juara tidak menjadi acuan bagi kami, namun kecintaan mereka terhadap budaya asli Melayu adalah sesuatu yang sangat berharga. Ini menjadi angin segar bagi budaya Melayu di Kabupaten Sekadau karena regenerasinya berhasil,” pungkasnya. (abg)

LEAVE A REPLY