Warga Emperarak Butuh Bantuan karena Menderita Penyakit Langka

1178
Lisan (kanan) bersama suaminya, Masam dan anak-anaknya, yang merupakan warga RT 002 RW 001, Dusun Emparak, Desa Nanga Pemubuh, Kecamatan Sekadau Hulu. Lisan menderita penyakit langka, yang belum diketahui jenisnya.

SEKADAU, LK – Lima tahun terakhir, Lisan (38) didera penyakit yang memaksanya kesulitan untuk beraktivitas. Selama lima tahun itu pula, ia belum mendapatkan penanganan medis terhadap penyakit yang dideritanya.

Ekonomi sulit yang memaksa Lisan hanya bisa menahan rasa sakit. Penyakit yang mendera Lisan, berupa benjolan besar di sekitar pinggang. Ia pun belum mengetahui secara pasti penyakit yang dideritanya itu. Sebab, keluarganya tak memiliki biaya untuk berobat ke rumah sakit dan dirinya mencoba melakukan pengobatan alternatif.

Lisan bersama suaminya, Masam (38) dan anak-anaknya tinggal di RT 002 RW 001, Dusun Emprarak, Desa Nanga Pemubuh, Kecamatan Sekadau Hulu. Adapun, pekerjaan sehari-hari sang suami adalah sebagai petani dan buruh di kebun sawit.

Masam menceritakan, dulu sang istri pernah dibawa ke pos kesehatan. Tetapi, keluarga tersebut disarankan untuk berobat ke rumah sakit sehingga bisa diketahui penyakit yang diderita oleh istrinya.

“Kami tidak tahu dapat uang dari mana untuk berobat. Untuk ke Sekadau saja tidak ada uangnya, bagaimana untuk bayar pengobatan? Makan, minum dan lain sebagainya,” tutur saat disambangi lawangkuari.com, Minggu (2/4/2017).

Keterbatasan ekonomi yang membuat keluarga, tidak bisa membawa Lisan berobatm, bahkan sejak lima tahun terakhir. Masam mengatakan, jika pun ada pengobatan, itu hanya dilakukan pengobatan kampung yang biayanya lebih ringan.

“Mau berobat tidak ada biaya, untuk makan kami dan tiga anak kami saja sudah sudah,” keluhnya.

Dikatakan Masam, keluarganya memang memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), Jamkesmas, BPJS. Namun, keluarga tersebut tetap saja tak membawa Lisan untuk berobat lantaran tidak ada persiapan, khususnya biaya.

“Saya dan istrik tidak berani, nanti kalau sudah berobat ada obat yang tidak ditanggung BPJS nanti kami bayar pakai apa? Sementara duit saja tak punya,” keluhnya.

Sementa itu, Lisan hanya bisa pasrah dengan kondisi yang dialaminya. Bahkan, dirinya pun tak mengetahui secara persis penyakit yang dialaminya sejak bertahun-tahun lamanya itu.

“Meski sudah dicek tapi tidak ada penjelasannya. Di cek hanya dipegang-pegang, kemudian disarakan ke rumah sakit besar, itu saja,” kata ibu tiga anak itu. (asm)

LEAVE A REPLY