Siswa Desa Merbang Mengarungi Jalan Berliku dan Medan Berat, untuk Mencari Ilmu di Tengah Keterbatasan (1)

361
Anak-anak kecil, berjuang menuntut ilmu ke sekolahnya di SD Negeri 20 Nanga Semalam, Dusun Resak Balai, Desa Merbang, Kecamatan Belitang Hilir. Hanya beralaskan sendal, kaki-kaki kecil itu terus melangkah melintasi hutan hingga melewati titian terbuat dari kayu setiap harinya.

SUNGAI AYAK, LK Banyak kejadian yang menarik perhatian semua kalangan tentang dunia pendidikan, ada menyenangkan, gembira, semangat, hingga memilukan. Seperti halnya yang terjadi di wilayah pedalaman Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Dengan langkah kecilnya, anak-anak itu berjuang menuntut ilmu ke sekolahnya di SD Negeri 20 Nanga Semalam, Dusun Resak Balai, Desa Merbang, Kecamatan Belitang Hilir. Hanya beralaskan sendal, kaki-kaki kecil itu terus melangkah melintasi hutan hingga melewati titian terbuat dari kayu setiap harinya.

Sabtu (8/4/2017), jalan setapak di hutan dan kebun karet hingga melewati sungai kecil menjadi setiap hari dilalui para siswa untuk menuju SD Negeri 20 Nanga Semalam. Pagi itu, anak-anak dari Dusun Enteras, Desa Sungai Ayak II mengenakan pakaian bebas, kaos dan celana pendek.

Tampak anak-anak itu, ada yang membawa parang ada pula yang membawa ember dan ada pula dengan tangan kosong baru saja pulang dari sekolahnya. Para siswa itu hanya melaksanakan kerja bakti dan pulang lebih awal dari biasanya.

Seperti biasa pula, dengan tenaga kecilnya anak-anak tersebut berusaha memanjat tititan yang dibuat seadanya dengan menggunakan kayu. Sebab, wilayah tersebut dipisahkan oleh sungai kecil dan jarak yang ditempuh anak-anak itu cukup jauh. Seolah-seolah sudah terbiasa kaki-kaki kecil itu melangkah dengan sigap.

Tanpa rasa takut terjatuh atau tergelincir dari titian yang dibuat dari kayu tersebut. Maklum saja, titian tersebut hanya terbuat dari kayu dan cukup tinggi sebab dibawahnya merupakan sungai kecil.

Usai melintasi titian tersebut tidak sedikit dari mereka yang berlarian menuju rumahnya. Mereka berlari sekencang-kencangnya, bahkan tanpa rasa khawatirnya kesandung dan terjatuh apalagi banyak tunggul-tunggul di jalan yang mereka lalui itu.

Tak jarang pula, semangat mereka pupus karena setibanya sekolah tapi tidak belajar. Apalagi, kondisinya jika hujan turun padahal mereka sudah bersemangat untuk pergi bersekolah.

Seorang siswa bernama Joni (12) yang duduk dibangku kelas III itu menuturkan, setiap harinya memang dirinya dan anak-anak lainnya hanya menggunakan sendal ke sekolah. “Pakai sendal. Guru ndak nyuruh pakai sepatu, di rumah juga ndak ada sepatu” kata Joni yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Ndak ada sepatu, nanti kalau naik kelas baru beli sapatu,” timpal seorang anak perempuan yang duduk dibangku kelas I.

Medan yang cukup sulit itu menjadi hal yang biasa dirasakan Joni dan anak-anak lainnya. Secercah harapan agar masa depan mereka lebih baik lagi. Meski menempuh jarak yang tak dekat, mereka pun tak ada rasa lelah walau harus berjalan kaki. (asm)

LEAVE A REPLY