Siswa Desa Merbang Mengarungi Jalan Berliku dan Medan Berat, untuk Mencari Ilmu di Tengah Keterbatasan (2)

400
Anak-anak kecil, berjuang menuntut ilmu ke sekolahnya di SD Negeri 20 Nanga Semalam, Dusun Resak Balai, Desa Merbang, Kecamatan Belitang Hilir. Hanya beralaskan sendal, kaki-kaki kecil itu terus melangkah melintasi hutan hingga melewati titian terbuat dari kayu setiap harinya.

SUNGAI AYAK, LK Saat banjir melanda, anak-anak SD Negeri 20 Nanga Semalam, Dusun Resak Balai, Desa Merbang, Kecamatan Belitang Hilir, harus diantar oleh orangtuanya. Para orangtua tak mungkin membiarkan anak-anaknya mendayung sampan di tengah derasnya arus sungai.

Mirisnya lagi, tak sedikit anak-anak di daerah tersebut mengubur mimpi-mimpinya, karena keterbatasan akses yang ada. Sebab, sekolah menjadi tempat mereka mengenyam pendidikan, hanya sampai kelas IV.

BACA JUGA: Siswa Desa Merbang Mengarungi Jalan Berliku dan Medan Berat, untuk Mencari Ilmu di Tengah Keterbatasan (1)

Bila siswa yang sekolah itu naik ke kelas V dan VI harus melanjutkan ke sekolah lain dan jaraknya sangat jauh. Sehingga, hal itu juga menjadi faktor banyaknya anak-anak di daerah tersebut tak menamatkan pendidikan sekolah dasarnya.

Ditemui di kediamannya, Radimin, Kepala Dusun Enteras, Desa Sungai Ayak II mengungkapkan, kondisi tersebut memaksa banyak warganya yang tak menamatkan bangku SD. Bahkan, kata dia, hanya beberapa warganya saja yang kini sedang menempuh pendidikan.

“Kalau disini data pendidikan, untuk SMP bisa dihitung, rata-rata tidak tamat SD. Saat ini warga kami SMA satu orang, SMP satu orang dan kelas VI ada empat orang, SD di sini hanya sampai kelas IV, kalau naik kelas V atau VI itu harus meneruskan ke sekolah lain lagi,” jelasnya, pada lawangkuari.com belum lama ini.

Masih dari penuturan sang Kadus, karena faktor alam dan medan yang dilalui cukup berat para orang tua terpaksa menyekolahkan anak-anaknya lebih dari batas usia masuk SD. Tak sedikit, bahka nanak-anak yang berusia 8 hingga 9 tahun baru duduk di bangku kelas I.

“Itu berdampak sekali. Kami selaku orang tua, juga tidak berani menyekolahkan anak apalagi kalau belum bisa berenang, terlebih bila banjir. Dengan keadaan seperti ini, kami mengantar terus kerjaan juga terbengkalai,” tuturnya.

Menurutnya, tak jarang anak-anak yang sudah bersemangat untuk ke sekolah harus kecewa lantaran tibanya di sekolah mereka tak belajar. “Kadang itu juga menjadi faktor anak-anak jadi malas, apalagi kalau hujan,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, warga pun berharap adanya pembangunan sekolah di Dusun Enteras. Dikatakan Radimin, tak hanya anak-anak yang harus melewati medan cukup, para guru pun demikian. Untuk sampai di tempat mengajar, para guru juga harus mengayuh sampan menuju sekolah itu.

“Lokasi yang jauh dari permukiman, banjir hingga lokasi yang berada di tengah hutan menjadi alasan kami ingin agar sekolah ditempatkan di Enteras. Sekolah itu sudah lebih dari 30 tahun dan dua kali dibangun,” imbuhnya.

Bahkan, Radimin sejak 2008 lalu juga telah menghibahkan tanahnya sebagai lahan mendirikan sekolah. Jika sekolah tersebut dibangun di tengah permukiman, kata dia, para orang tua tentunya tidak perlu khawatir dengan anaknya yang tak bisa berenang.

“Selain itu warga juga bisa memberikan pengawasan, kalau guru ndak kan malu. Tapi kalau ditengah hutan siapa yang mengawasinya,” kata dia.

Untuk itu, ia berharap apa yang menjadi harapan masyarakat dapat terealisasi. Bahkan, kata dia, sudah ada yang datang untuk melihat lokasi tersebut.

“Kami berharap tidak hanya melihat, tapi merealisasikan rencana pembangunan sekolah tersebut karena lahannya sudah siap. Kan ada kampung pendukung lainnya” tukasnya.

Pemkab Sekadau, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah menyikapi kondisi tersebut. Pemkab telah mengusulkan Unit Sekolah Baru (USB) di Enteras, Desa Sungai Ayak II, Kecamatan Belitang Hilir.

“Sudah diusulkan USB Enteras, karena ini kebutuhan mendesak. Namun, tetap harus bersabar, karena melalui tahapan, ” ujar Kadisdikbud Sekadau, Djemain Burhan. (asm)

 

LEAVE A REPLY