Makna Perang Bodel dan Meriam Karbit di Sekadau

119
Perang bodel yang dilakukan saat lebaran yang dilakukan di Sungai Sekadau.
SEKADAU – Banyak masyarakat di Kabupaten sekadau tidak tahu arti dan makna tradisi atau budaya perang bodel dan meriam karbit di bantaran Sungai Sekadau adalah tanda kemenangan.
Berdasarkan penelusuran, perang bodel dan meriam karbit di bantaran Sungai Sekadau itu terdiri dari tiga desa, yaitu Sungai Ringin, Tanjung dan Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir.
Mauludin selaku koordinator Mariam Karbit dan Bodel kampung Sewak Desa Mungguk Kecamatan Sekadau Hilir mengatakan, terkait perang Karbit dan bodel di kampung yang berada di bantaran Sungai Sekadau merupakan tradisi dan budaya yang sudah dilakukan dari zaman dulu hingga sekarang oleh masyarakat sekitar.
“Lalu mengenai arti dan makna perang meriam karbit dan bodel adalah menunjukan sebuah rasa kemenangan setelah menjalankan ibdah puasa, dan sebuah agend-agenda untuk mengisi hari lebaran agar terasa ramai,” ujarnya.
Ketiga desa ini, kata Din sapaan akrab Mauludin, sudah sepakat tidk akan melakukan anarkis ketika proses perang berlanjut. “Jadi, setiap warga yang mengikuti perang itu ada aturannya, seperti tidak boleh Marah, tidak boleh membawa senjata tajam, dan barmang berbahaya lainnya. Jadi mereka yang perang Bodel memakai perahu hanya berlomba-lomba membunyikan Bodel mereka dan di panahkan ke perahu bodel dari kelompok lain, semua kelompok tentu berlomba-lomba untuk berusaha bagaimana tidak terkena panahan bunyi bodel tersebut,” jelasnya.
Memang, kata dia, tahun sebelumnya pernah terjadi adu mulut antar kelompok perahu bodel itu, namun, ada tim yang mengantisipasinya. “Dulu pernah ada adu mulut, tetapi cepat kita redamkan, tetapi ketika hari lebaran secara spontan mereka sudah bai-baikan dan berteman kembali, dan itu sudah teruji hampir setiap tahun jika ada kles pasti pada saat lebaran baikan lagi,” ucapnya.
Atas dasar itu, dirinya pun berharap, agar pemerintah bisa memperhatikan kelompok masyarakat yang ada di 3 desa itu yang telah melestarikan tradisi dan budaya perang Karbit dan Bodel ini saat menyambut hari raya idul fitri.
“Minimal ada anggaran setiap tahunnya, karena kita setiap tahun mencari kayu dan merakitnya hampir rata-rata gotong royong dan meminta sumbangan kepada pihak lain karbit itu bisa jadi. Kami mencatat titik yang membunyikan meriam karbit sekitar delapan titik yang tersebar di 3 desa diatas,” jelasnya.
Lebih lanjut ia sampaikan, berhrap adanya penetapan sebgai kampung wisata religi atau wisata budaya.
“Saya rasa itu sangat memungkinkan, karena aktivitas perang karbit dan Bodel ini dilakukan sudah dari dulu, dan dilestarikan dan untuk diwilyah Timur Kalbar Sekadau yang paling eksis melakukannya. Mudah-mudahan pemerintah bisa jeli melihat kegiatan masyarakat ini agar kedepan bisa menjadi daya tarik wisatawan dari luar atau dalam negeri,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Kecamatan Sekadau Hilir Syamsudin mengatakan, untuk desanya juga telah melakukan hal yang sama seperti desa Mungguk dan Sungai Ringin, pihaknya juga melestarikan aktivitas pembuatan Mariam karbit dan Bodel untuk melakukan perang ketika menyambut hari raya Lebaran.
“Khususnya di Desa Tanjung setiap tahun tidak ketinggalan membuat  bodel dan meriam karbit, karena ini adalah tradisi setiap menyambut hari raya idul fitri di tepi-tepi sungai sekadau. Membuat Bodel kami memakai kaleng cat sedangkan meriam karbit kami mengambil kayu di hutan semua kami lakukan dengan cara gotong royong,” ucapnya.
Ia menjelaskan, Desa Tanjung memiliki 3 titik peletakan Marim Karbit dan Bodel. Dan setiap titik ad pengurusnya masing-masing. “Kami memaknai tradisi ini adalah suatu semangat dalam menyambut dan merayakan hari raya dan juga hari kemenangan karena sebulan berpuasa jadi dentuman Mariam karbit dan Bodel adalah tanda bahwa rasa semangat itu ditunjukan,” ungkapnya.

 

Dirinya pun berharap, agar aktivitas masyarakat di 3 desa ini bisa diperhatikan oleh pemerintah, karena di perng Karbit ini menurutny hanya ada di Pontinak dan Sekadau, bahkan di Pontianak Sudah ada peraturannya walikotanya.

“Kami berharap agar Pemkab sekadau bisa ikut partisipasi dalam pelestarian agar kelompok masyarakat yang berjuang susah payah untuk membuat Mariam dan Bodel bisa diringankan, bahkan bisa menjdi objek wisata religi dan budaya di kota Sekadau,” pungkasnya. (ran)

LEAVE A REPLY