Mengenal Seni Berpikir Kritis: Solusi Agar Tidak Mudah Terjebak Informasi Palsu
- account_circle Anisa
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- print Cetak

Mengenal Seni Berpikir Kritis: Solusi Agar Tidak Mudah Terjebak Informasi Palsu ( FOTO : YouTube )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LawangKuari.Com – Pernahkah Anda merasa sulit mendahulukan logika daripada perasaan saat mengambil keputusan? Fenomena ini ternyata berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia yang secara alami didesain untuk bekerja secara otomatis demi menghemat energi.
Melansir informasi dari kanal edukasi Satu Persen – Indonesian Life School, manusia pada dasarnya bukan makhluk yang terbiasa mendahulukan logika dalam setiap aspek. Jika setiap tindakan kecil seperti melangkah atau menyetir harus dianalisis secara mendalam, otak akan cepat mengalami kelelahan atau burnout.
Namun, ketergantungan berlebih pada sistem otomatis ini menyimpan risiko. Seseorang menjadi lebih rentan mengambil keputusan yang keliru atau terjebak dalam informasi yang belum teruji kebenarannya.
Apa Itu Berpikir Kritis?
Critical thinking atau berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir lebih rasional yang didasari oleh analisis mendalam sebelum menentukan tindakan. Kemampuan ini menjadi benteng utama agar seseorang tidak langsung menelan mentah-mentah informasi yang diterima, termasuk berita bohong (hoax) yang sering beredar di media sosial.
Seorang pemikir kritis menyadari bahwa popularitas suatu informasi tidak otomatis menjadikannya sebuah fakta. Dengan melatih ketajaman berpikir, seseorang dapat menjadi pembelajar yang lebih aktif, teliti, dan terlindungi dari upaya penipuan.
Langkah Membangun Kemampuan Berpikir Kritis
Untuk mengasah keterampilan ini, terdapat beberapa tahapan yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Memberikan Jeda pada Sistem Otomatis
Langkah awal yang paling krusial adalah belajar memberikan jeda atau pause saat menghadapi situasi penting. Kesadaran untuk berpindah dari mode berpikir otomatis ke mode kritis diperlukan agar tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
2. Aktif Mencari Informasi dan Riset
Seseorang yang kritis umumnya memiliki rasa penasaran yang tinggi. Membiasakan diri untuk melakukan riset dan mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber akan membantu seseorang dalam menentukan sikap yang lebih objektif.
3. Membiasakan Berpikir Terbuka (Open-Minded)
Sikap merasa paling benar merupakan penghambat utama dalam berlogika. Penting untuk menerima kenyataan bahwa pengetahuan manusia terbatas. Jika menemui informasi yang berbeda, cobalah untuk mendengarkan dan menganalisis secara logis daripada langsung menolaknya secara emosional.
Pentingnya Wawasan sebagai Bahan Bakar Logika
Pada akhirnya, berpikir kritis adalah keterampilan yang membutuhkan wawasan luas sebagai “bahan bakar” utama. Wawasan tersebut dapat diperoleh melalui literatur mandiri maupun program terstruktur seperti workshop atau bootcamp.
Penerapan pola pikir ini sangat luas, mulai dari jenjang pendidikan hingga penyusunan strategi bisnis. Dengan memperluas cakrawala berpikir, masyarakat tidak hanya meningkatkan kualitas keputusan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
- Penulis: Anisa
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: Satu Persen (YouTube)

Saat ini belum ada komentar