Simak 7 strategi Ade Rai untuk mengontrol rasa lapar saat puasa, mulai dari nutrisi rendah karbo hingga manajemen pola pikir tepat.
- account_circle Anisa
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

Strategi Ade Rai: 7 Tips Cerdas Lawan Lapar Agar Puasa Tetap Bertenaga ( FOTO : YouTube )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Memahami Kesiapan Tubuh dalam Menghadapi Transisi Energi
Rasa lemas dan lapar yang berlebihan saat memulai ibadah puasa sering kali menjadi tantangan utama. Menurut pakar kesehatan dan binaragawan, Ade Rai, kondisi ini umumnya dipicu oleh ketergantungan tubuh pada karbohidrat (carb dependent).
Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi gula dan tepung secara rutin, tubuh akan mengalami reaksi “kaget” saat asupan tersebut dihentikan secara tiba-tiba. Namun, Ade Rai menekankan bahwa tubuh manusia memiliki kecerdasan alami untuk beradaptasi. Melalui proses ketosis, tubuh dapat beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi utama.
7 Strategi Efektif Menjaga Metabolisme Selama Puasa
Untuk mempermudah masa transisi tersebut, berikut adalah tujuh langkah strategis yang dapat diterapkan:
1. Persiapan Diet Rendah Karbohidrat (Pre-Fast)
Sebelum memasuki periode puasa, mulailah membatasi konsumsi karbohidrat olahan seperti mie, roti, dan gula. Gantilah dengan karbohidrat alami berserat tinggi seperti ubi atau nasi merah. Selain itu, prioritaskan konsumsi protein dan lemak sehat (seperti alpukat) saat sahur agar kadar gula darah tetap stabil.
2. Memperkuat Niat dan Pola Pikir
Puasa akan terasa lebih ringan jika didasari oleh niat yang kuat. Menetapkan target durasi, misalnya 14 atau 16 jam, serta berada di lingkungan yang suportif akan membantu menjaga kedisiplinan diri.
3. Mencari Apresiasi Selain Makanan
Ubah cara pandang yang menjadikan makanan sebagai satu-satunya penghargaan diri. Carilah distraksi positif melalui hobi atau aktivitas menyenangkan lainnya yang tidak melibatkan konsumsi makanan.
4. Menjaga Produktivitas dengan Aktivitas
Rasa lapar cenderung lebih terasa saat tubuh dalam kondisi diam. Mengisi waktu dengan bekerja, belajar, atau berdiskusi dapat membantu mengalihkan sinyal lapar pada otak.
5. Edukasi Manfaat Biologis Puasa
Memahami proses internal tubuh, seperti autofagi (pembersihan sel rusak) dan pembakaran lemak perut, dapat meningkatkan motivasi. Pengetahuan ini membuat puasa dijalani sebagai bentuk investasi kesehatan, bukan beban.
6. Memantau Indikator Kondisi Tubuh
Secara medis, sangat penting untuk mengenali batas kemampuan fisik. Selama kadar gula darah berada di angka 70-80 mg/dL, tubuh biasanya masih dalam kondisi aman. Namun, jika angka menunjukkan di bawah 60 mg/dL disertai pusing hebat, segera lakukan langkah antisipasi.
7. Memberikan Penghargaan Non-Makanan
Berikan apresiasi pada diri sendiri setelah berhasil mencapai target puasa. Gunakan penghargaan yang mendukung gaya hidup sehat, seperti istirahat yang cukup atau membeli barang yang dibutuhkan.
Kesimpulan
Pada dasarnya, puasa atau intermittent fasting adalah metode untuk mencapai kesehatan yang lebih optimal. Dengan tubuh yang bugar dan metabolisme yang sehat, setiap individu diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat bagi sesama.
- Penulis: Anisa
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: YouTube Ade Rai

Saat ini belum ada komentar