Makna Tarhib Ramadan: Ustaz Adi Hidayat Paparkan 3 Persiapan Melapangkan Hati
- account_circle Anisa
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Makna Tarhib Ramadan: Ustaz Adi Hidayat Paparkan 3 Persiapan Melapangkan Hati ( FOTO - YouTube )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LawangKuari.Com – Banyak umat Muslim rutin mengikuti acara “Tarhib Ramadan” menjelang bulan suci, namun belum tentu semua memahami esensi terdalamnya. Melalui kanal YouTube Ceritaku Ceritamu, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengupas tuntas arti kata Tarhib yang kerap disalahartikan hanya sebatas seremoni penyambutan.
Secara etimologi, Ustaz Adi menjelaskan bahwa kata Tarhib berakar dari kata Rahaba yang berarti lapang atau luas. Tarhib Ramadan bukan sekadar perayaan, melainkan upaya sadar untuk melapangkan jiwa dan meluaskan hati sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Filosofi Gelas dan Kesiapan Hati
Dalam ceramahnya, Ustaz Adi memberikan perumpamaan sebuah gelas untuk menggambarkan kondisi batin manusia.
“Jika hati kita sempit dan penuh dengan urusan dunia atau penyakit hati, maka akan sulit diisi dengan perintah-perintah Allah. Namun, jika hati sudah dilapangkan (Tarhib), maka saat perintah salat, sabar, dan menahan amarah datang saat Ramadan, kita sudah siap menerimanya dengan nyaman,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Ia menambahkan, hal inilah yang mendasari ucapan “Marhaban ya Ramadan”. Kalimat tersebut memiliki makna mendalam bahwa hati seorang hamba sudah luas dan siap menerima segala perintah Allah selama satu bulan penuh.
3 Persiapan Penting Menuju Ramadan
Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak menunggu Ramadan tiba untuk beribadah, melainkan sudah bersiap sejak bulan Sya’ban. Berikut adalah tiga poin utama yang perlu dipersiapkan:
1. Memperbanyak Doa dengan Niat yang Benar
Mengingat ajal adalah rahasia Illahi, umat diajak memperbanyak doa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan dalam kondisi sehat dan iman yang kokoh. Namun, UAH memberikan catatan penting terkait literatur doa.
“Hati-hati terhadap hadis-hadis palsu atau mungkar mengenai doa bulan Rajab atau Sya’ban. Fokuslah pada doa memohon kekuatan iman,” pesannya.
2. Melatih Fisik dengan Puasa Sunnah
Merujuk pada riwayat Aisyah RA, Rasulullah SAW paling sering menjalankan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Praktik ini merupakan bentuk pelatihan fisik dan mental agar tubuh tidak terkejut saat memasuki ritme ibadah Ramadan.
3. Menyusun Rencana Amalan Spesifik
Agar Ramadan tidak berlalu sia-sia, Ustaz Adi menyarankan penyusunan target ibadah berdasarkan Hadis Riwayat Al-Bukhari nomor 1803, yang meliputi:
• Interaksi Al-Qur’an: Mengutamakan kualitas bacaan yang benar daripada sekadar mengejar kuantitas khatam.
• Memperbanyak Sedekah: Meneladani sifat kedermawanan para sahabat Nabi.
• Muhasabah (Introspeksi): Mengevaluasi diri dan menentukan dosa apa yang ingin ditobati secara sungguh-sungguh.
Menjaga Etika dalam Beribadah
Sebagai penutup, Ustaz Adi mengingatkan agar persiapan yang telah dibangun tidak rusak oleh perilaku tercela, seperti mencaci orang lain atau mencela para sahabat Nabi. Beliau mengajak masyarakat untuk mencontoh kegembiraan para sahabat dalam menyambut Ramadan yang didasari oleh hati yang lapang (Rahaba).
“Mari kita contoh semangat mereka dengan meningkatkan ilmu dan kesungguhan ibadah mulai dari sekarang,” pungkasnya.
- Penulis: Anisa
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: YouTube Ceritaku Ceritamu

Saat ini belum ada komentar